Memori demikian menjadi paradoks dengan keadaan sekarang. Kita tahu TV sudah bergeser dari piranti komunal menjadi piranti individual. Bukan hal yang aneh jika satu rumah terdapat lebih dari 1 TV. Seperti di hotel setiap kamar terdapat TV, dengan lebar layar minimal 20 inchi dan berwarna. Dirumah saya walaupun masih 1 TV untuk satu keluarga, namun semangat individualnya sudah menguat. Saya pulang kantor ( sekitar jam 15.00 ) eh.. anak saya yang berumur 6 tahun sudah ngetem di depan TV menyaksikan variety show mulai dari petualangan, koki cilik bahwa sampai hipnotis. Ya sudah akhirnya saya ngalah saja, baca koran. Beberapa saat kemudian program TV sudah berganti dengan kartun atau acara anak anak. Kalah lagi, berharap bisa nonton berita tapi keinginan anak sangat kuat akhirnya urung juga. Lepas maghrib ketka anak sudah ngnatuk, gantian ibunya anak anak yang nonton sinetron. Padahal saya paling males nonton sinetron, karena ceritanya beralur dengan segala kebetulan, plot cerita terlalu datar, bila digemari ceritanya diulur ulur. Dibanding ketika nonton ketoprak dulu, sebenarnya sinetron lebih berwarna, aktor aktrisnya bening bening namun sinetron tidak memberikan pesan moral yang jelas. Berbeda dengan kethoprak walupun sinopsis cerita diketahui, plot cerita sudah pakem namun pesan moral yang didapat kena di penonton. Sehingga paradoks TV bermakna ganda di satu sisi teknologi TV sangat maju tetapi konten di TV tidak maju maju dan di sisi lain TV mengudara 24 jam namun hampir hampir saya tidak punya waktu nonton TV. Ketika saya kecil TV mengudara dari jam 16.00 s.d. 24.00 setipa hari, namun justru alokasi waktu di depan TV sangat besar karena suasana yang di bngun. Akhirnya saya gagal lagi nonton TV. Salah satu peluang nonton TV adalah nonton sepakbola dari eropa karena timingnya dinihari, sudah pasti istri dan anak saya sudah tidur. Begitu keinginan nonton TV dinihari terpenuhi, muncul kegalauan karena nontonnya sendirian. Coba seperti 25 tahun yang lalu, dimana nonton TV bareng bareng satu kampung, asyik banget. Saya kira tayangan sepakbola menggambarkan realita apa adanya dalam kehidupan. Sebuah pertarungan yang berakhir dengan menang kalah, tragedi dan selebrasi merupakan hal yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari hari sekecil apapun. Namun sungguh disayangkan postur acara di TV kita sangat jauh dari realitas. Sehingga jika diumpamakan acara TV yang didominasi sinetron dan variety show kita pertandingkan layaknya sepakbola, maka kita tidak akan temukan mana yang tragedi dan mana yang selebrasi. Semua sudah terdistribusi merata tanpa selebrasi dan tragedi yang sebenarnya. Semua hal bersifat semu, kering dan kompromistis. Penonton seperti saya tidak memperoleh pengetahuan dan pencerahan yang sesuai takaran. Lalu siapa yang diuntungkan ? mungkin produser, aktor dan aktris, kru productin house maupun pengelola televisi. Dan penonton harus puas dengan gigit jari !

Diskusi
Belum ada komentar.