//
you're reading...
Opini

Banyak Sinetron di TV

Televisi  (TV) dewasa ini merupakan hal yang sudah biasa dimasyarakat. Dalam artian kepemilikan dan kegunaannnya. Masih ingat saya saat usia 10 tahunan ( pertengahan 1984-an) dimana keluarga saya bisa membeli sebuah pesawat TV. Dengan tipe hitam putih, box dari kabinet kayu dan menggunakan sumber listrik berupa aki, ukuran layar 14 inchi. TV yang keluarga saya miliki merupakan TV ke 5 di seluruh kampung yang berjumlah kira kira 70 Kepala Keluarga (KK). Sehingga dapat disimpulkan bahwa TV di keluarga dan komunitas saya merupakan barang langka, baik dari rasio jumlah TV dan KK yang ada di kampung saya maupun secara empiris pada jam tertentu atau ada tayangan khusus seperti kethoprak, rumah saya penuh berjubel tetangga yang nebeng nonton. Saya rasakan saat itu TV menjadi tidak begitu penting, namun yang lebih penting adalah kebersamaan, guyub rukun dan ayom ayem. Konten di TV entah berita, film Indonesia (saat itu belum ada sinetron) maupun kethoprak tidak penting untuk dicermati. Jika nonton berita selalu komentar penonton di rumah adalah , “kejadian kok seperti itu ya… untung ditempat kita tidak”. Harap maklum karena saat itu berita sudah mendapat sensor yang ketat, disamping secara sosial politik dan kebudayaan memang tidak ada gejolak di masyarakat. Maka menyaksikan dinamika politik diluar negeri melalui berita menumbuhkan kecintaan terhadap negara kita. Jika nonton film Indonesia alur cerita kebanyakan antagonis dan protagonis sangat kentara sedangkan akhir cerita selalu happy ending. Dan yang lebih garing lagi jika menonton kethoprak, karena cerita yang ditayangkan adalah cerita yang sudah mengakar di masyarakat, maka begitu opening title di TV sudah tertulis cerita tertentu, (biasanya cerita tentang kerjaan mataram awal, walisongo atau kerjaan kediri) sudah pasti penonton tua sudah komentar tentang ceritanya nanti begini, akhirnya begini bla bla bla. Jadi nonton sebenarnya nggak nyaman, ngak suprprise, nggak ada suspense dan thrillernya. Jadi memang begitu konten tidaklah penting, yang penting suasana yang dibangun pada saat menonton TV, semua keluarga kumpul, guyub rukun, hangat dan selalu ingin dikenang. Mereka rela datang dengan keluarga, nonton TV hitam putih yang hanya 14 inchi, apalagi kalau akinya sudah tekor, layar 14 inchi tinggal separonya. Namun nonton bareng seperti itu selalu ditunggu tunggu, bahkan ibu saya dengan rela membuat makanan kecil dan minuman ala kadarnya. Pokoke mangan ora mangan kumpul.

Memori demikian menjadi paradoks dengan keadaan sekarang. Kita tahu TV sudah bergeser dari piranti komunal menjadi piranti individual. Bukan hal yang aneh jika satu rumah terdapat lebih dari 1 TV. Seperti di hotel setiap kamar terdapat TV, dengan lebar layar minimal 20 inchi dan berwarna. Dirumah saya walaupun masih 1 TV untuk satu keluarga, namun semangat individualnya sudah menguat. Saya pulang kantor ( sekitar jam 15.00 ) eh.. anak saya yang berumur 6 tahun sudah ngetem di depan TV menyaksikan variety show mulai dari petualangan, koki cilik bahwa sampai hipnotis. Ya sudah akhirnya saya ngalah saja, baca koran. Beberapa saat kemudian program TV sudah berganti dengan kartun atau acara anak anak. Kalah lagi, berharap bisa nonton berita tapi keinginan anak sangat kuat akhirnya urung juga. Lepas maghrib ketka anak sudah ngnatuk, gantian ibunya anak anak yang nonton sinetron. Padahal saya paling males nonton sinetron, karena ceritanya beralur dengan segala kebetulan, plot cerita terlalu datar, bila digemari ceritanya diulur ulur. Dibanding ketika nonton ketoprak dulu, sebenarnya sinetron lebih berwarna, aktor aktrisnya bening bening namun sinetron tidak memberikan pesan moral yang jelas. Berbeda dengan kethoprak walupun sinopsis cerita diketahui, plot cerita sudah pakem namun pesan moral yang didapat kena di penonton. Sehingga paradoks TV bermakna ganda di satu sisi teknologi TV sangat maju tetapi konten di TV tidak maju maju dan di sisi lain TV mengudara 24 jam namun hampir hampir saya tidak punya waktu nonton TV. Ketika saya kecil TV mengudara dari jam 16.00 s.d. 24.00 setipa hari, namun justru alokasi waktu di depan TV sangat besar karena suasana yang di bngun. Akhirnya saya gagal lagi nonton TV. Salah satu peluang nonton TV adalah nonton sepakbola dari eropa karena timingnya dinihari, sudah pasti istri dan anak saya sudah tidur. Begitu keinginan nonton TV dinihari terpenuhi, muncul kegalauan karena nontonnya sendirian. Coba seperti 25 tahun yang lalu, dimana nonton TV bareng bareng satu kampung, asyik banget. Saya kira tayangan sepakbola menggambarkan realita apa adanya dalam kehidupan. Sebuah pertarungan yang berakhir dengan menang kalah, tragedi dan selebrasi merupakan hal yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari hari sekecil apapun. Namun sungguh disayangkan postur acara di TV kita sangat jauh dari realitas. Sehingga jika diumpamakan acara TV yang didominasi sinetron dan variety show kita pertandingkan layaknya sepakbola, maka kita tidak akan temukan mana yang tragedi dan mana yang selebrasi. Semua sudah terdistribusi merata tanpa selebrasi dan tragedi yang sebenarnya. Semua hal bersifat semu, kering dan kompromistis. Penonton seperti saya tidak memperoleh pengetahuan dan pencerahan yang sesuai takaran. Lalu siapa yang diuntungkan ? mungkin produser, aktor dan aktris, kru productin house maupun pengelola televisi. Dan penonton harus puas dengan gigit jari !

Tentang Agus Setyawan

Guru IPA SMP, suka tantangan dan pengalaman baru. Humoris dan menerima hidup apa adanya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Awan Kategori

Berita Humor Opini Tips
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.